Kakek dan Nenek
duduk berhadapan.
Beberapa saat mereka saling memandang, Beberapa saat mereka saling
tersenyum. Suatu saat mereka sama-sama menuju ke sofa, duduk berdampingan,
seperti sepasang pemuda dan pemudi. Setelah mereka ketawa kembali mereka duduk
berhadapan. Lalu beberapa saat saling memandang, tersenyum, lalu ke sofa lagi
duduk berdampingan, seperti pepasang pengantin, malu-malu dan sebagainya,
demikian seterusnya..
TIGA
Kakek : Sekarang kau
nyanyi.
Nenek menggeleng sambil
tersenyum manja.
Kakek : Seperti dulu.
Nenek menggeleng sambil
tersenyum manja.
Kakek : Nyanyi seperti dulu.
Nenek : Malu
Kakek : Sejak dulu kau
selalu begitu.
Nenek : Habis kaupun
selalu mengejek setiap kali saya menyanyi.
Kakek : Sekarang tidak,
sejak sekarang saya tidak akan pernah mengejek kau lagi.
Nenek : Saya tidak mau
menyanyi.
Kakek : Kapanpun?
Nenek : Kapanpun.
Kakek : Juga untuk
saya.
Nenek : Juga untuk kau.
Kakek : Sama sekali?
Nenek : Sama sekali.
Kakek : Kau kejam. Saya
sangat sedih. Saya mati tanpa lebih dulu mendengar kau menyanyi.
Nenek : Sayang, kenapa
kau berfikir kesana? Itu sangat tidak baik, lagi tidak ada gunanya. Sayang ,
berhenti kau berfikir tentang hal itu.
Kakek : Mati saya tidak
bahagia karena kau tidak maumenyanyi. Ini memang salah saya. Tetapi kalau sejak
dulu kau cukup mengerti bahwa saya memang sangat memainkan kau, tentu kau bisa
memaafkan segala macam ejekan-ejekan saya. Tuhan, saya kira saya akan
menghembuskan nafas saya yang terakhir tatkala kau sedang menyanyikan sebuah
lagu ditelinga saya.
Nenek : Sayang saya
mohon berhentilah kau berfikir mengenai hal itu. Demi segala-galanya
berhentilah. Tersenyumlah lagi seperti biasanya.
Kakek : Saya akan
tersenyum kalau kau mau mengucapkan janji.
Nenek : Tentu, tentu.
Kakek : Kau mau
menyanyi.
Nenek : Tentu, sayang,
tentu.
Kakek : Kapan?
Nenek : Suatu ketika.
Kakek : Sebelum saya mati?
Nenek : Ya, sayang, ya,
sayang.
Kakek : Sekarang.
Nenek : Tidak mungkin,
sayang, kau tahu saya sedikit flu karena pesta beberapa hari yang lalu?
Kakek : (Tertawa) U,
saya baru ingat sekarang.
Nenek : Selalu kau
begitu. Selalu kau tak pernah ambil pusing setiap kali saya sakit.
Kakek : Kau
melebih-lebihkan.
Nenek : Tapi acap kali
kau begitu. Kalau saya batuk baru setelah satu minggu kau tahu.
Kakek : Ya, saya akui
saya acap kali terlalu asyik dengan diri sendiri. Saya akui. Saya minta
dimaafkan supaya sorga saya tidak tertutup, supaya kubur saya…….
Nenek : Sayang, saya
tidak mau memberi maaf kalau kau tidak mau juga berhenti menyebut-nyebut soal
kematian.
Kakek : Maaf, tidak
lagi.
Nenek : Sekarang saya
akan memaafkan kau dengan satu syarat.
Kakek : Apa?
Nenek : Kau harus
menyanyi.
Kakek menggelengkan kepalanya.
Nenek : Kalu begitu,
kau tak saya maafkan.
Kakek : Dan sorga saya…?
Nenek : Mungkin,
tertutup.
Kakek : Baik, saya akan
menyanyi. Tapi separo. Kalau terlalu lama nanti saya batuk.
Nenek : Tidak. Satu
lagu.
Kakek : Nanti batuk.
Nenek : Setiap kali kau
bilang begitu, padahal kau memang pintar menyanyi. Dan kau selalu menghabiskan
sebuah lagu dengan sempurna tanpa batuk.
Kakek : Satu lagu?
Nenek : Ayolah, sayang.
Penonton sudah tidak sabar lagi menunggu sang penyanyi.
Kemudian kakek
menyanyi dua tiga baris dari no other love stand – Chen Schubert atau lainnya
dan selebihnya play back. Begitu lagu berakhir nenek bertepuk tangan dengan
semangat.
Nenek : Suara kau tidak
pernah berubah.
Kakek : Mana album
kesatu? Saya ingin melihat gambar saya ketika saya menyanyi di depan umum
dimana kau juga ikut mendengarkan. Kau ingat kapan itu.
Nenek : Ketika itu kau
baru saja lulus propaedus. Kau sombong betul ketika itu.
Kakek : Kau juga.
Sepicingpun kau tak pernah membalas pandang saya.
Nenek : Habis pandangan
kau nakal.
Kakek : Habis kau juga
suka mencuri pandang.
Nenek : Kau sudah
terlalu pintar berciuman ketika pertama kali kau mencium saya.
Kakek : Saya memang
pintar berkhayal. Setiap kali saya menonton saya selalu mengkhayalkan adegan
ciuman secara amat terperinci.
EMPAT
Pesuruh : Ada
tamu, nyonya besar.
Nenek : Siapa?
Pesuruh : Nyonya Wenas,
nyonya.
Nenek : (Melirik pada
Kakek) Nyonya janda itu (kepada pesuruh) Sebentar saya ke depan.
Pesuruh exit.
Nenek : Kau surati dia?
Kakek : Tidak.
Nenek : Kau bohong.
Bagaimana dia bisa tahu tentang pesta kita?
Kakek : Saya tidak tahu.
Nenek : Kau bohong
(Exit) Demam saya mulai kambuh.
LIMA
Kakek : Seharusnya dia
tidak perlu datang kemari.
Kemudian kakek mondar-mandir
sambil bersungut-sungut.
Kakek : Saya takut dia betul-betul demam
karena kedatangan janda itu. Ah. Lebih baik saya menyingkir ke ruang baca.
(Exit)
naskah lengkap Pada Suatu Hari ~ Arifin C. Noor dapat diunduh dibawah ini
Share via FB/Twitter / Google Plus untuk melihat alamat unduhan
Tweet


