Teater Yunani Klasik

May 28, 2018
Tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2300 tahun yang lalu. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung dan berundak-undak yang disebut amphitheater (Jakob Soemardjo, 1984). Ribuan orang mengunjungi amphitheater untuk menonton teater-teater, dan hadiah diberikan bagi teater terbaik. Naskah lakon teater  Yunani merupakan naskah lakon teater pertama yang menciptakan dialog diantara para karakternya. Ciri-ciri khusus pertunjukan teater pada masa Yunani Kuno adalah:

  • Pertunjukan dilakukan di amphitheater. 
  • Sudah menggunakan naskah lakon.  
  • Seluruh pemainnya pria bahkan peran wanitanya dimainkan pria dan memakai topeng karena setiap pemain memerankan lebih dari satu tokoh.
  • Cerita yang dimainkan adalah tragedi yang membuat penonton tegang, takut, dan kasihan serta cerita komedi yang lucu, kasar dan sering mengeritik tokoh terkenal pada waktu itu. x Selain pemeran utama juga ada pemain khusus untuk kelompok koor (penyanyi), penari, dan narator (pemain yang menceritakan jalannya pertunjukan). 


amphitheater

Pengarang teater Yunani Klasik, yaitu

  • Aeschylus (525-SM). Dialah yang pertama kali mengenalkan tokoh prontagonis dan antagonis sehingga mampu menghidupkan peran. Karyanya yang terkenal adalah Trilogi Oresteia yang terdiri dari Agamennon , The Libatian Beavers, dan The Furies. 
  • Shopocles (496-406 SM) dengan karya yang terkenal adalah Oedipus The King, Oedipus at Colonus, Antigone.     
  • Euripides (484-406 SM) dengan karya-karyanya antara lain Medea, Hyppolitus, The Troyan Woman, Cyclops. 
  • Aristophanes (448-380 SM) penulis naskah drama komedi. Dengan karyanya yang terkenal adalah Lysistrata, The Wasps, The Clouds, The Frogs, The Birds.  
  • Manander (349-291 SM.). Manander menghilangkan koor dan menggantinya dengan berbagai watak. Misalnya watak orang tua yang baik, budak yang licik, anak yang jujur, pelacur yang kurang ajar, tentara yang sombong dan sebagainya. Karya Manander juga berpengaruh kuat pada Zaman Romawi Klasik dan drama komedi Zaman Renaissance dan Elisabethan. 

 Pertunjukan teater Yunani Kuno 

Kebanyakan drama tragedi Yunani dibuat berdasarkan legenda. Drama-drama ini sering membuat penonton merasa tegang, takut, dan kasihan. Drama komedi bersifat lucu dan kasar serta sering mengolokolok tokoh-tokoh terkenal.


Teater Barat ~ Asal Mula Teater

May 28, 2018
Waktu dan tempat pertunjukan teater yang pertama kali dimulai tidak diketahui. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut. 

  • Berasal dari upacara agama primitif. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater. Meskipun upacara agama telah lama ditinggalkan, tapi teater ini hidup terus hingga sekarang.   
  • Berasal dari nyanyian untuk menghormati seorang pahlawan di kuburannya.  Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater. 
  • Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan, kepahlawanan, perang, dan lain sebagainya). Rendra dalam Seni Drama Untuk Remaja (1993), menyebutkan bahwa naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang  pendeta Mesir,  I Kher-nefert, di zaman peradaban Mesir Kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi. Pada zaman itu peradaban Mesir Kuno sudah maju. Mereka sudah bisa membuat piramida, sudah mengerti irigasi, sudah bisa membuat kalender, sudah  mengenal ilmu bedah, dan juga sudah mengenal tulis menulis.  

Relief Mesir kuno

Kher-nefert menulis naskah tersebut untuk sebuah pertunjukan teater ritual di kota Abydos, sehingga  terkenal sebagai Naskah Abydos yang menceritakan pertarungan antara dewa buruk dan dewa baik. Jalan cerita naskah Abydos juga diketemukan tergambar dalam  relief kuburan yang lebih tua. Para ahli bisa memperkirakan bahwa jalan cerita itu sudah ada dan dimainkan orang sejak tahun 5000 SM. Meskipun baru muncul sebagai naskah  tertulis di tahun 2000 SM. Dari hasil penelitian  yang dilakukan  diketahui juga bahwa   pertunjukan teater Abydos terdapat unsur-unsur teater  yang meliputi  pemain, jalan cerita, naskah dialog, topeng, tata busana, musik, nyanyian, tarian, selain itu juga properti pemain seperti tombak, kapak, tameng, dan sejenisnya.  

Naskah Mesir kuno


source : Kelas10 SMK ~ Seni-teater.

Definisi Teater

May 28, 2018
Teater berasal dari kata Yunani, “theatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung  pertunjukan. Dalam perkembangannya, dalam pengertian lebih luas kata teater diartikan sebagai segala hal yang dipertunjukkan di depan orang banyak. Dengan demikian, dalam rumusan sederhana teater adalah pertunjukan, misalnya ketoprak, ludruk, wayang, wayang wong, sintren, janger, mamanda, dagelan, sulap, akrobat, dan lain sebagainya. Teater dapat dikatakan sebagai manifestasi dari aktivitas naluriah, seperti misalnya, anak-anak bermain sebagai ayah dan ibu, bermain perang-perangan, dan lain sebagainya.  Selain itu, teater merupakan manifestasi pembentukan strata sosial kemanusiaan yang berhubungan dengan masalah ritual. Misalnya, upacara adat maupun upacara kenegaraan, keduanya memiliki unsur-unsur teatrikal dan bermakna filosofis. Berdasarkan paparan di atas, kemungkinan perluasan definisi teater itu bisa terjadi. Tetapi batasan tentang teater dapat dilihat dari sudut pandang sebagai berikut: “tidak ada teater tanpa aktor, baik berwujud riil manusia maupun boneka, terungkap di layar maupun pertunjukan langsung yang dihadiri penonton, serta laku di dalamnya merupakan realitas fiktif”, (Harymawan, 1993). Dengan demikian teater adalah pertunjukan lakon yang dimainkan di atas pentas dan disaksikan oleh penonton. Namun, teater selalu dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari kata Yunani Kuno “draomai” yang berarti bertindak atau berbuat dan “drame” yang berasal dari kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah. Dalam istilah yang lebih ketat berarti lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa istilah “teater” berkaitan langsung dengan pertunjukan, sedangkan “drama” berkaitan dengan lakon atau naskah cerita yang akan dipentaskan. Jadi, teater adalah visualisasi dari drama atau drama yang dipentaskan di atas 

panggung dan disaksikan oleh penonton. Jika “drama” adalah lakon dan “teater” adalah pertunjukan maka “drama” merupakan bagian atau salah satu unsur dari “teater”. Jika digambarkan maka peta kedudukan teater dan drama adalah sebagai berikut. 

Gb.1 Peta kedudukan teater dan drama 

Dengan kata lain, secara khusus teater mengacu kepada aktivitas melakukan kegiatan dalam seni pertunjukan (to act) sehingga tindak- tanduk pemain di atas pentas disebut acting. Istilah acting diambil dari kata Yunani “dran” yang berarti, berbuat, berlaku, atau beraksi. Karena aktivitas beraksi ini maka para pemain pria dalam teater disebut actor dan pemain wanita disebut actress (Harymawan, 1993). Meskipun istilah teater sekarang lebih umum digunakan tetapi sebelum itu istilah drama lebih populer sehingga pertunjukan teater di atas panggung disebut sebagai pentas drama. Hal ini menandakan digunakannya naskah lakon yang biasa disebut sebagai karya sastra drama dalam pertujukan teater. Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau  tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegoro VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006). Keterikatan antara teater dan drama sangat kuat. Teater tidak mungkin dipentaskan tanpa lakon (drama). Oleh karena itu pula dramaturgi menjadi bagian penting dari seni teater. Dramaturgi berasal dari bahasa Inggris dramaturgy yang berarti seni atau tekhnik penulisan drama dan penyajiannya dalam bentuk teater. Berdasar pengertian ini, 

maka dramaturgi membahas proses penciptaan teater mulai dari penulisan naskah hingga pementasannya. Harymawan (1993) menyebutkan tahapan dasar untuk mempelajari dramaturgi yang disebut dengan formula dramaturgi. Formula ini disebut dengan fromula 4 M yang terdiri dari, menghayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. M1 atau menghayal, dapat dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang karena menemukan sesuatu gagasan yang merangsang daya cipta. Gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada suatu persitiwa baik yang disaksikan, didengar maupun dibaca dari literatur tertentu. Bisa juga gagasan itu timbul karena perhatian ditujukan pada kehidupan seseorang. Gagasan atau daya cipta tersebut kemudian diwujudkan ke dalam besaran cerita yang pada akhirnya berkembang menjadi sebuah lakon untuk dipentaskan. M2 atau menulis, adalah  proses seleksi atau pemilihan situasi yang harus dihidupkan begi keseluruhan lakon oleh pengarang. Dalam sebuah lakon, situasi merupakan kunci aksi. Setelah menemukan kunci aksi ini, pengarang mulai mengatur dan menyusun kembali situasi dan peristiwa menjadi pola lakon tertentu. Di sini seorang pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati para tokoh untuk diciptakan, dan semua unsur pembentuk lakon untuk dikomunikasikan. M3 atau memainkan, merupakan proses para aktor memainkan kisah lakon di atas pentas. Tugas aktor dalam hal ini adalah mengkomunikasikan ide serta gagasan pengarang secara hidup kepada penonton. Proses ini melibatkan banyak orang yaitu, sutradara sebagai penafsir pertama ide dan gagasan pengarang, aktor sebagai komunitakor, penata artsitik sebagai orang yang mewujudkan ide dan gagasan secara visual serta penonton sebagai komunikan. M4 atau menyaksikan, merupakan proses penerimaan dan penyerapan informasi atau pesan yang disajikan oleh para pemain di atas pentas oleh para penonton. Pementasan teater dapat dikatakan berhasil jika pesan yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Penonton pergi menyaksikan pertunjukan dengan maksud pertama untuk memperoleh kepuasan atas kebutuhan dan keinginannya terhadap tontonan tersebut.  Formula dramaturgi seperti disebutkan di atas merupakan tahap mendasar yang harus dipahami dan dilakukan oleh para pelaku teater. Jika salah satu tahap dan unsur yang ada dalam setiap tahapan diabaikan, maka pertunjukan yang digelar bisa dipastikan kurang sempurna. Oleh karena itu, pemahaman dasar formula dramaturgi dapat dijadikan acuan proses penciptaan karya seni teater.

source : Kelas10 SMK ~ Seni-teater.

Sumur Tanpa Dasar ~ Arifin C. Noor

May 28, 2018
SANDIWARA INI KITA MULAI DENGAN SUARA DETAK-DETIK LONCENG YANG
MENGGEMA MEMENUHI  RUANG. SUARA DETAK-DETIK INI BERJATUHAN SEDEMIKIAN RUPA SEHINGGA MENIMBULKAN BERMACAM-MACAM ASOSIASI. SESEKALI DI SELA-SELA SUARA INI MENYAYUP PANJANG LOLONG ANJING ATAU SRIGALA YANG SEDANG ‘MERAIH’ BULAN.

2
LONCENG ITU ANTIC, TUA, AGUNG DAN KUKUH PENUH RAHASIA. DARI RONGGA LONCENG MUNCUL KABUT-KABUT ATAU PARA PEMAIN YANG MELUKISKAN KABUT-KABUT. MEREKA MELANGKAH MENGENDAP-ENDAP UNTUK SELANJUTNYA SECARA PENUH RAHASIA MENYEBAR KE SEGENAP ARAH DAN SEGERA GAIB SIRNA.

3
PIGURA ITU TANPA GAMBAR TANPA POTO, KOSONG, TERGANTUNG SUNYI DAN PENUH RAHASIA

4
DI ATAS KURSI GOYANG JUMENA MARTAWANGSA BERGOYANG-GOYANG SUNYI. TAMPAK SESAK PERNAFASANNYA. SEKALI PUN BEGITU, KEDUA MATANYA MASIH MENYOROTKAN PANDANGAN YANG TAJAM. AMAT TAJAM. DAN DALAM KEADAAN SEPER JUMENA KELIHATAN SEPERTI SEDANG MENGHITUNG DETAK-DETIK LONCENG.
SEJAK TADI, SEONGGOK KABUT BERDIRI DI SAMPINGNYA MEMEAINKAN SEHELAI TALI YANG SIAP UNTUK MENGGANTUNG LEHER. AGAK BEBERAPA SAAT JUMENA MENIMBANG-NIMBANG TALI ITU. KEMUDIAN KABUT ITU MENDEKATKAN TALI GANTUNGAN ITU DAN JUMENA MENCOBA MEMASANG PADA LEHERNYA. DIA TERTAWA.

JUMENA
Kalau saya bunuh diri, sandiwara ini tidak akan pernah ada

Sambil tertawa ia memberikan isyarat agar kabut pembawa tali pergi. Dan pada saat itu detak-detik lonceng semakin lantang. Dari rongga lonceng muncul Sang Kala alias Pemburu yang siap dengan senapannya. Ketika senapan itu meletus, terkumpullah seluruh amarah dan kekagetan Jumena

JUMENA
Bangsat!

TATKALA SANG KALA GAIB BERDENTANGANLAH LONCENG ITU. KEMUDIAN BERDENTANG JUGALAH BERJUTA LONCENG-LONCENG  DAN WEKER. SEDEMIKIAN RUPA SUARA ITU MENEROR SEHINGGA MENYEBABKAN JUMENA BANGKIT. DAN PADA SAAT JUMENA BERDIRI, HENING MENGGANTIKAN SUASANA. LALU JUMENA DUDUK KEMBALI.

PEREMPUAN TUA MUNCUL MENGGANTI TEMPOLONG LUDAH DI KAKI KURSI GOYANG DENGAN TEMPOLONG YANG LAIN.

P. TUA (Sambil pergi)
Terlalu bernafsu. Pucat sekali wajahnya

5

ENTAH DARI SEBELAH MANA EUIS MUNCUL

JUMENA
Kalau saya bisa percaya, saya tenang. Kalau saya bisa tidak percaya, saya tenang. Kalau saya percaya dan bisa tidak percaya, saya tenang. Tapi saya tidak percaya dan tidak bisa tidak percaya, jadi saya tidak tenang. Tapi juga kalau saya tenang, tak akan pernah ada sandiwara ini

EUIS
Akang

JUMENA
Euis

EUIS
Apa yang akang lihat?

JUMENA
Kau

EUIS
Kenapa?

JUMENA
Ingin tahu apa kau betul-betul cantik

EUIS MERANGKUL DAN MENCIUMI JUMENA, TELINGA JUMENA DAN LAIN-LAIN SEHINGGA MEMBUAT JUMENA KEGELIAN. KEDUANYA TERTAWA-TAWA. SEKONYONG-KONYONG JUMENA MEMATUNG, MURUNG

EUIS
Kenapa, Akang?
(Jumena Memainkan Bulu Matanya Sendiri)
Kenapa tiba-tiba muram, Akang?

JUMENA (Manja-tua)
Umur Euis berapa?

EUIS
Dua enam

JUMENA
Itulah sebabnya!

EUIS
Percayalah akang. Euis akan tetap mencintai akang sekalipun umur akang delapan puluh tiga tahun

JUMENA
Betul?

EUIS
sumpah

JUMENA
Kalau delapan lima?

EUIS
Cinta

JUMENA
Seratus tahun?

EUIS
Euis akan tetap menciumi leher akang

KEMBALI EUIS MERANGKUL DAN MENCIUMI LEHER JUMENA DAN LAIN-LAIN. KEDUA-DUANYA TERTAWA

JUMENA
Kalau saja saya tahu kau betul-betul mencintai saya

EUIS
Euis sangat cinta pada akang

JUMENA
Menyenangkan sekali kalau itu benar

EUIS
Betul Euis mencintai akang

JUMENA
Mungkin, saying akang tidak tahu persis

EUIS
Tidak perlu

JUMENA
Perlu. Bahkan akang juga ingin tahu apa betul akang bahagia
(Terus mereka berciuman dan tertawa-tawa)
Sesekali enak juga berhibur seperti ini

TERUS MEREKA BERCIUMAN DAN TERTAWA

6

ENTAH DARI MANA MARJUKI KARTADILAGA MUNCUL. IA TERSENYUM SAMBIL MENYEDOT PIPA ROKOKNYA

JUMENA (Kesal-sedih)
Kenapa kau rusak sendiri? Kenapa kau berubah? Lenyapkan itu

(Begitu melihat Marjuki, perhatian Euis beralih dan langsung merangkulnya)

Bangsat. Kau rusak sendiri. Semuanya kau rusak sendiri

(Dalam sunyi Jumena menimbang-nimbang sendiri apa yang baru diucapkannya)

Siapa bilang aneh? Semua ini mungkin saja terjadi. Tuhan, kenapa justru saya merasakan sesuatu semacam kenikmatan dengan segala pikiran-pikiran ini? Kau jebak saya, Tuhan. Kau jebak saya. Tega. Kau! (lalu mulai dengan pikirannya) saya kira mula-mula istri saya…. (Agak lama) Ya, mula-mula istri saya akan berlaku seperti bidadari

(Euis menutup wajahnya seperti seorang gadis kecil)

Mungkin saja….

EUIS (Gemetar)
Tidak mungkin Juki

JUKI
Mungkin saja

EUIS (Gemetar)
Tidak mungkin. Saya tidak bisa meninggalkan dia

JUKI
Segalanya mungkin. Tidak ada tidak mungkin

EUIS
Hati saya mulai bersuara lagi

JUKI
Kalau begitu kau sedang membunuh dirimu sendiri. Apa kamu merasa sedang dihukum? Apa ayahmu sedang melecutmu?

EUIS
Dada saya bergetar sangat kencangnya

JUMENA
Kalimat-kalimat ini berasal dari syahwat

Lolong anjing di kejauhan

EUIS
Kau dengar anjing yang melolong itu?

JUKI
Bukankah suara itu suara kita sendiri? Anjing yang melolong dan menggonggong? Bulan yang kuning

JUMENA
….suara-suara kesepian yang baka dan purba…

JUKI
Euis

EUIS (Sangat takut)
Juki, dia suami saya

JUKI
Dan saya?

EUIS (Bertubi-tubi menciumi Jumena)
Saya mencintai suami saya seperti saya mencintai ayah saya sendiri

JUMENA
Setiap kali dia berlebihan menciumi saya, terasa ciuman itu sebagai niat pembunuhan

JUKI (Melangkah akan pergi)
Baiklah!

JUMENA
Apa yang akan ia lakukan?

EUIS (Mengejar)
Marjuki!

JUMENA
Saya kira begitu

JUKI
Euis, musuh kita selama ini adalah perasaan. Kita harus memusnahkannya. Membunuhnya sama sekali. Kedua orang tua saya mati karena perasaan mereka sendiri. Mereka bangkrut karena mereka terlalu mencintai paman saya. Dan akhirnya mereka mati sebelum mati. karena saya tahu betul kejadian itu, tentu saja saya tidak mau bernasib sama seperti mereka. Saya harus menang terhadap  perasaan saya dank au pun harus menang terhadap perasaanmu

EUIS
Tapi bagaimana pun dia suami saya

JUKI
Dan saya?

EUIS MENGGIGIT IBU JARINYA SENDIRI YANG KIRI

JUMENA
Apa yang diharapkan perempuan sebenarnya?

EUIS
Seorang suami yang mencintainya…

JUMENA
Saya sangsi…

JUKI
Dan sekalipun dia seorang perempuan atau banci? Tidak, sayang. Seorang perempuan selamanya hanyalah mengharapkan seorang laki-laki. Kalau tidak, pasti bukan perempuan. (Mendekat) lihatlah saya. Seorang laki-laki. Seluruhnya seratus persen

JUMENA
Kenapa membersit pikiran-pikiran seperti ini? Enyah! Enyah!

JUKI
Saya yakin ketika kau sendirian dalam kamar, kau sering duduk-duduk di muka cermin, dan kau tentu sangat suka berbicara pada dirimu dalam cermin



naskah lengkap  Sumur Tanpa Dasar ~ Arifin C. Noor dapat diunduh dibawah ini
https://perpusnaskah.blogspot.co.id
Share via FB/Twitter / Google Plus untuk melihat alamat unduhan

Pada Suatu Hari ~ Arifin C. Noor

May 28, 2018
Kakek dan Nenek duduk berhadapan.

Beberapa saat mereka saling memandang, Beberapa saat mereka saling tersenyum. Suatu saat mereka sama-sama menuju ke sofa, duduk berdampingan, seperti sepasang pemuda dan pemudi. Setelah mereka ketawa kembali mereka duduk berhadapan. Lalu beberapa saat saling memandang, tersenyum, lalu ke sofa lagi duduk berdampingan, seperti pepasang pengantin, malu-malu dan sebagainya, demikian seterusnya..

TIGA
Kakek              :  Sekarang kau nyanyi.
Nenek menggeleng sambil tersenyum manja.
Kakek              :  Seperti dulu.
Nenek menggeleng sambil tersenyum manja.
Kakek              : Nyanyi seperti dulu.
Nenek              :  Malu
Kakek              :  Sejak dulu kau selalu begitu.
Nenek              :  Habis kaupun selalu mengejek setiap kali saya menyanyi.
Kakek              :  Sekarang tidak, sejak sekarang saya tidak akan pernah mengejek kau lagi.
Nenek              :  Saya tidak mau menyanyi.
Kakek              :  Kapanpun?
Nenek              :  Kapanpun.
Kakek              :  Juga untuk saya.
Nenek              :  Juga untuk kau.
Kakek              :  Sama sekali?
Nenek              :  Sama sekali.
Kakek              :  Kau kejam. Saya sangat sedih. Saya mati tanpa lebih dulu mendengar kau menyanyi.
Nenek              :  Sayang, kenapa kau berfikir kesana? Itu sangat tidak baik, lagi tidak ada gunanya. Sayang , berhenti kau berfikir tentang hal itu.
Kakek              :  Mati saya tidak bahagia karena kau tidak maumenyanyi. Ini memang salah saya. Tetapi kalau sejak dulu kau cukup mengerti bahwa saya memang sangat memainkan kau, tentu kau bisa memaafkan segala macam ejekan-ejekan saya. Tuhan, saya kira saya akan menghembuskan nafas saya yang terakhir tatkala kau sedang menyanyikan sebuah lagu ditelinga saya.
Nenek              :  Sayang saya mohon berhentilah kau berfikir mengenai hal itu. Demi segala-galanya berhentilah. Tersenyumlah lagi seperti biasanya.
Kakek              :  Saya akan tersenyum kalau kau mau mengucapkan janji.
Nenek              :  Tentu, tentu.
Kakek              :  Kau mau menyanyi.
Nenek              :  Tentu, sayang, tentu.
Kakek              :  Kapan?
Nenek              :  Suatu ketika.
Kakek              :  Sebelum saya mati?
Nenek              :  Ya, sayang, ya, sayang.
Kakek              :  Sekarang.
Nenek              :  Tidak mungkin, sayang, kau tahu saya sedikit flu karena pesta beberapa hari yang lalu?
Kakek              :  (Tertawa) U, saya baru ingat sekarang.
Nenek              :  Selalu kau begitu. Selalu kau tak pernah ambil pusing setiap kali saya sakit.
Kakek              :  Kau melebih-lebihkan.
Nenek              :  Tapi acap kali kau begitu. Kalau saya batuk baru setelah satu minggu kau tahu.
Kakek              :  Ya, saya akui saya acap kali terlalu asyik dengan diri sendiri. Saya akui. Saya minta dimaafkan supaya sorga saya tidak tertutup, supaya kubur saya…….
Nenek              :  Sayang, saya tidak mau memberi maaf kalau kau tidak mau juga berhenti menyebut-nyebut soal kematian.
Kakek              :  Maaf, tidak lagi.
Nenek              :  Sekarang saya akan memaafkan kau dengan satu syarat.
Kakek              :  Apa?
Nenek              :  Kau harus menyanyi.
Kakek menggelengkan kepalanya.
Nenek              :  Kalu begitu, kau tak saya maafkan.
Kakek              :  Dan sorga saya…?
Nenek              :  Mungkin, tertutup.
Kakek              :  Baik, saya akan menyanyi. Tapi separo. Kalau terlalu lama nanti saya batuk.
Nenek              :  Tidak. Satu lagu.
Kakek              :  Nanti batuk.
Nenek              :  Setiap kali kau bilang begitu, padahal kau memang pintar menyanyi. Dan kau selalu menghabiskan sebuah lagu dengan sempurna tanpa batuk.
Kakek              :  Satu lagu?
Nenek              :  Ayolah, sayang. Penonton sudah tidak sabar lagi menunggu sang penyanyi.
Kemudian kakek menyanyi dua tiga baris dari no other love stand – Chen Schubert atau lainnya dan selebihnya play back. Begitu lagu berakhir nenek bertepuk tangan dengan semangat.
Nenek              :  Suara kau tidak pernah berubah.
Kakek              :  Mana album kesatu? Saya ingin melihat gambar saya ketika saya menyanyi di depan umum dimana kau juga ikut mendengarkan. Kau ingat kapan itu.
Nenek              :  Ketika itu kau baru saja lulus propaedus. Kau sombong betul ketika itu.
Kakek              :  Kau juga. Sepicingpun kau tak pernah membalas pandang saya.
Nenek              :  Habis pandangan kau nakal.
Kakek              :  Habis kau juga suka mencuri pandang.
Nenek              :  Kau sudah terlalu pintar berciuman ketika pertama kali kau mencium saya.
Kakek              :  Saya memang pintar berkhayal. Setiap kali saya menonton saya selalu mengkhayalkan adegan ciuman secara amat terperinci.

EMPAT
Pesuruh           :  Ada tamu, nyonya besar.
Nenek              :  Siapa?
Pesuruh           :  Nyonya Wenas, nyonya.
Nenek              :  (Melirik pada Kakek) Nyonya janda itu (kepada pesuruh) Sebentar saya ke depan.
Pesuruh exit.
Nenek              :  Kau surati dia?
Kakek              :  Tidak.
Nenek              :  Kau bohong. Bagaimana dia bisa tahu tentang pesta kita?
Kakek              :  Saya tidak tahu.
Nenek              :  Kau bohong (Exit) Demam saya mulai kambuh.

LIMA
Kakek              :  Seharusnya dia tidak perlu datang kemari.
Kemudian kakek mondar-mandir sambil bersungut-sungut.
Kakek  :           Saya takut dia betul-betul demam karena kedatangan janda itu. Ah. Lebih baik saya menyingkir ke ruang baca. (Exit)
naskah lengkap  Pada Suatu Hari ~ Arifin C. Noor dapat diunduh dibawah ini
https://perpusnaskah.blogspot.co.id

Share via FB/Twitter / Google Plus untuk melihat alamat unduhan

Matahari di Sebuah Jalan Kecil ~ Arifin C. Noor

May 28, 2018

Sebentar lagi berkas-berkas di langit akan buyar dan matahari akan memulai memancarkan sinarnya yang putih, terang dan panas. Jalan itupun akan mulai hidup, bernafas dan debu-debu akan segera berterbangan mengotori udara.
Jalan itu bukan jalan kelas satu. Jalan itu jalan kecil yang hanya dilalui kendaraan-kendaraan dalam jumlah kecil. Tetapi sebuah pabrik es yang tidak kecil berdiri di pinggirnya dan pabrik itu memiliki gedung yang sangat tua. Di depan gedung itulah para pekerja pabrik mengerumuni SIMBOK yang berjualan pecel di halaman.
Seorang laki-laki yang sejak malam terbaring, tidur di ambang pintu yang terpalang tak dipakai itu, bangun dan menguap setelah seorang yang bertubuh pendek membangunkannya. Laki-laki itu adalah PENJAGA MALAM.

  1. PENJAGA MALAM : Uuuuuh, gara-gara pencuri, aku jadi kesiangan.
  2. SI PENDEK               : Tadi malam ada pencuri?
  3. PENJAGA MALAM : Di sana, di ujung jalan itu! (menunjuk)
  4. SI PENDEK               : Tertangkap?
  5. PENJAGA MALAM : Dia licik seperti belut. (menggeliat lalu pergi)
  6. SI PENDEK               : (duduk lalu membaca koran)

Seorang pemuda (anak laki-laki) membawa baki di atas kepalanya lewat. Ia menjajakan kue donat dan onde-onde. Suaranya nyaring sekali. Tak ada orang mengacuhkannya. Begitu ia lenyap seorang pemuda lewat pula yang berjalan dengan perlahan, berbaju lurik kumal, sepatu kain yang sudah rusak dan buruk, wajahnya pucat. Sebentar ia memperhatikan orang-orang yang tengah makan lalu ia pergi dan iapun tak diperhatikan orang.
Gemuruh mesin yang tak pernah berhenti itu, yang abadi itu, makin lama makin mengendur daya bunyinya sebab lalu lintas di jalan itu mulai bergerak dan orang-orang semakin banyak di halaman pabrik itu. SIMBOKpun makin sibuk melayani mereka. Lihatlah!

  1. SI TUA                       : (menerima pecel) Sedikit sekali.
  2. SIMBOK                    : (tak menghiraukan dan terus melayani yang lain)
  3. SI PECI                      : Ya, sedikit sekali (menyuapi mulutnya)
  4. SI TUA                       : Tempe lima rupiah sekarang.
11.                                                                         SI KACAMATA         : Beras mahal (membuang cekodongnya) kemarin istriku mengeluh.
  1. SI PECI                      : Semua perempuan ya ngeluh.
  2. SI KURUS                 : Semua orang pengeluh.
14.                                                                              SI KACAMATA      : Kemarin sore istriku berbelanja ke warung nyonya pungut. Pulang-pulang ia menghempaskan nafasnya yang kesal……. Harga beras naik lagi, katanya.
  1. SI PECI                      : Apa yang tidak naik?
  2. SI TUA                       : Semua naik.
  3. SI KURUS                 : Gaji kita tidak naik.
  4. SI KACAMATA        : Anak saya yang tertua tidak naik kelas.
  5. SI TUA                       : Uang seperti tidak ada harganya sekarang.
  6. SI KURUS                 : Tidak seperti…. Ah memang tak ada harganya.
  7. SI TUA                       : (mengangguk-angguk)
  8. SI PECI                      : Ya.
  9. SI KACAMATA        : Ya.
24.                                                                         SI PENDEK    : Menurut saya (menurunkan koran yang sejak tadi menutupi wajahnya. Sebentar ia berfikir sementara kawannya bersiap mendengar cakapnya). Menurut saya, sangat tidak baik kalau kita tak henti-hentinya mengeluh sementara masalah yang lebih penting pada waktu ini sedang gawat menantang kita. Dalam seruan serikat kerja kitapun telah dinyatakan demi menghadapi revolusi dan soal-soal lainnya yang menyangkut negara kita harus turut aktif dan bersiap siaga untuk segala apa saja dan yang terpenting tentu saja perhatian kita.
  1. SI TUA                       : (menggaruk-garuk)
26.                                                                         SI PENDEK    : Ya, baru saja saya baca dari koran….nich, korannya…. Bahwa kita harus waspada terhadap anasir-anasir penjajah, kolonialisme. Kita harus hati-hati dengan mulut yang manis dan licin itu. (tiba-tiba batuk dan keselek)…..tempe mahal tidak enak rasanya… (meneruskan yang semula) beras yang mahal hanya soal yang tidak lama.
  1. SI PECI                      : Ya.
  2. SI KACAMATA        : Ya.
  3. SI PENDEK               : Ya.
30.                                                                         SI TUA            : Dulu (batuk-batuk), dulu saya hanya membutuhkan uang sepeser untuk sebungkus nasi.
  1. SI PECI                      : Dulu?
  2. SI TUA                       : Ketika jaman normal.
  3. SI KURUS                 : Jaman Belanda.
34.                                                                              SI TUA          : Ya, jaman Belanda. Untuk sehelai kemeja saya hanya membutuhkan uang sehelai rupiah.
35.                                                                              SI KURUS    : Tapi untuk apa kita melamun, untuk apa kita mengungkap-ungkap yang dulu?
36.                                                                              SI PENDEK  : (makin berselera) Ya, untuk apa? Untuk apa kita melamun? Untuk apa kita mengkhayal? Apakah dulu bangsa kita ada yang mengendarai mobil? Sepedapun hanya satu dua orang saja yang memilikinya. Kalaupun dulu ada itulah mereka para bangsawan, para priyayi dan para amtenar yang hanya mementingkan perut sendiri saja. Sekarang lihatlah ke jalan raya.
37.                                                                              SI PENDEK  : …… Lihatlah Kemdal Permai, stanplat. Pemuda-pemuda kita berkeliaran dengan sepeda motor. Kau punya sepeda? Ya, kita bisa mendengarkan lagu-lagu dangdut dari radio. Ya?
  1. SI KACAMATA        : Ya.
  2. SI PENDEK               : Ya, tidak?
  3. SI KURUS                 : Ya.
  4. SI PENDEK               : Ya, tidak?
  5. SI TUA                       : (mengangguk-angguk)
43.                                                                         SI PENDEK    : Sebab itu kita tidak perlu mengeluh, apalagi melamun dan mengkhayal, sekarang yang penting kita bekerja, bekerja yang keras.
  1. SI KACAMATA        : Saya juga berpikir begitu.
45.                                                                         SI PENDEK    : Kita bekerja dan bekerja keras untuk anak-anak kita kelak.
  1. SI KACAMATA        : Saya ingin anak saya memiiki yamaha bebek.
  2. SI PENDEK               : Asal giat bekerja kita bebas berharap apa saja.
48.                                                                         SI KURUS      : Tapi kalau masih ada korupsi? Anak kita akan tetap hanya kebagian debu-debunya saja dari motor yang lewat di jalan raya.
  1. SI PECI                      : Ya.
  2. SI KACAMATA        : Ya.
  3. SI TUA                       : Ya, sekarang kejahatan merajalela.
  4. SI KURUS                 : Semua orang bagai diajar mencuri dan menipu.
  5. SI KACAMATA        : semua orang.
54.                                                                         SI KURUS      : Uang serikat kerja kitapun pernah ada yang menggerogoti (melirik kepada si pendek)
  1. SI PECI                      : Ya, setahun yang lalu. (melirik si pendek)
56.                                                                         SI KACAMATA         : Ya, dan sampai sekarang belum tertangkap tuyulnya. (melirik pada si pendek)
  1. SI TUA                       : (mengangguk-angguk)

PEMUDA muncul lagi, mula-mula ragu lalu ia turut bergerombol dan makan pecel.

58.                                                                         SI PECI           : Ya, setahun yang lalu (melirik si pendek) Sekarang kita sukar mempercayai orang.
SI KURUS     : Bahkan kita takkan percaya lagi pada kucing. Kucing sekarang takut pada tikus dan tikus sekarang besar-besar, malah ada yang lebih besar daripada kucing, dan adapula tikus yang panjangnya satu setengah meter dan empat puluh kilogram beratnya. 



naskah lengkap  Matahari di Sebuah Jalan Kecil ~ Arifin C. Noor dapat diunduh dibawah ini
https://perpusnaskah.blogspot.co.id
Share via FB/Twitter / Google Plus untuk melihat alamat unduhan

Bius ~ Benny Yohanes

May 23, 2018

Karya Benny Yohanes
TOKOH : Tuna S, Amin, Orang Tua

Sebuah sudut di kamar periksa dokter, dilator belakang Nampak kamar-kamar sempit, tiang-tiang kokoh dan pintu-pintu berkaca buram. Sebuah rumah sakit yang sudah sangat lama digunakan,namun tidak dirawat.
            Tuna S masuk ruangannya, diseputar dinding  Nampak terjejer rapih gambar-gambar
manusia yang tersenyum. Amin dan seorang tua berjejer duduk diruang tunggu. Tuna s Nampak baru bangun tidur. Dia duduk di atas sebuah peti mati, yang dijadikannya meja untuk menerima dan memeriksa pasien.
            Tuna S membuat tanda salib , lalu membuka peti mati. Dari dalam petinya lalu diambil gayung, odol, sikat, lalu menggosok gigi. Lalu setelah itu menelan sebutir pil, dan dia bersendawa. Ditutupnya peti mati lalu membuat tanda salib lagi. Diruang tunggu terdengar orang tua terbatik-batuk. Amin membantu melegakan nafasnya.

TUNA S
Suster… Suster… ( sepi tak ada jawaban. melihat pada orang tua. matanya saling tertumbuk ) masuklah. ( Dokter melepaskan kerekan. ke ranjang alat-alatnya tur un tepat dihadapan dadanya ).

AMIN
nama saya Amin, Dokter.

Tuna S ( duduk menghadapi dengan tatapan kosong ).
apa cita-citamu?

AMIN ( heran ).
saya mau berobat.

TUNA S
Oh, maaf. Saya selalu teringat noni, saudaraku. Maksud saya, Ayahmu sakit apa?

AMIN
Maksud Dokter…

TUNA S
Panggil aku Tuna. Tuna Sumantri ( terdengar batuk Orang tua. Tuna mengeluarkan nama dari keranjang peralatannya. memperlihatkan kaus yang dipakainya. lalu celana panjangnya. tulisannya : Tuna s)

AMIN
Baik. Nama saya Amin. Saya sakit

TUNA S ( berdiri ).
O, kukira kau hanya mengantar Ayahmu kesini.
AMIN
Bukan. Aku tidak kenal Orang tua itu. dia datang sesudah aku. Saya kira memang sakitnya lebih parah.

TUNA S
Jadi dia bukanAayahmu? ( pergi ke pintu . memandang Orang tua) Suster… Suster… ( jengkel ). Kemana mereka?! ( Dokter bertumbu pandang dengan Orang tua. pandangannya aneh. Dokter mengangguk ).

AMIN ( Amin mencoba menggerak-gerakan tangan kanannya yang sulit di gerakan ).

TUNA S
Kenapa kamu Amin? 

AMIN
Tangan saya tidak bisa bergerak. Dan akhir-akhir ini mataku rasanya bertambah berat. Penglihatanku kabur.

TUNA S ( memegang-megang tangan Amin ).
Apa kerjamu?

AMIN
Menulis, Dokter ( Dokter mengacungkan papan namanya ).  Aku menulis, Tuna.

TUNA S
Jadi kau seorang pengarang Amin?

AMIN
Belum jelas.

TUNA S
Maksudmu? ( sambil meneliti tangan Amin ).

AMIN
Aku menulis karena kesukaan saja. ( Dokter menyuruh membuka rahang ).

TUNA S
Kesukaan? (Amin mengangguk, Dokter mengatupkan rahang Amin ).
Hahaha… aku punya saudara, juga pengarang seperti kau. Kalau kutanyakan : Noni apa saja yang kau tulis itu, dengan tak acuh dia akan bilang : apa saja yang kusuka! Hahaha. Dan roman mukanya mengerut persisi seperti kau menjawab pertanyaanku tadi. Kau sepreti Noni.

AMIN
Aku Cuma menulis apa yang melintas pada pikiranku.

TUNA S
Itu bagus. Setidaknya kau tahu betul apa yang kau tulis. Kapan saja kau menulis?
AMIN 
Setiap hari. Setiap waktu. Setiap hatiku menginginkannya. (Orang tua itu bukan lagi).

TUNA S
kau pasti mengenal, siapa itu…, Agatha Kristiono?

AMIN
Tidak.

TUNA S
Tapi kau seorang pengarang?

AMIN
Memang. Tapi hidupku kurasa tak membutuhkan teka-teki dan misteri.

TUNA S
Kalau begitu, kau pasti lebih menyukai karangan-karangan Eddy Durennmatt Iskandar?

AMIN
Tidak, Dokter. Kuras Tuhan tidak membuat hidup semudah novel-novel itu.

TUNA S
Kau seorang pemikir rupanya.

AMIN
Aku menyukai peperangan. Ya! Aku selalu menulis tentang itu. Sebab dalam peperangan selalu lahir pahlawan-pahlawan ( Orang tua batuk-batuk lagi ).

TUNA S
Sebentar! ( bergegas ke pintu ).  Suster… ( mendekati Orang tua ) masuklah, Pak.

AMIN
Selesaikan dulu. Aku tidak apa-apa ( batuk-batuk lagi ).

TUNA S
Bapak perlu minum?

ORANG TUA
Tidak, terima kasih, aku tidak bisa menerima kebaikan orang, sebelum aku berbuat sesuatu kepadanya.

TUNA S
Baik. ( kembali kepada Amin ) rasanya dia mengenalku. Matanya… ah.

AMIN
Apa memang tanganku lumpuh, Dokter Tuna?



naskah lengkap  Bius ~ Benny Yohanes dapat diunduh dibawah ini
https://perpusnaskah.blogspot.co.id
Share via FB/Twitter / Google Plus untuk melihat alamat unduhan