Karya Benny Yohanes
TOKOH : Tuna S, Amin, Orang Tua
Sebuah sudut
di kamar periksa dokter, dilator belakang Nampak kamar-kamar sempit,
tiang-tiang kokoh dan pintu-pintu berkaca buram. Sebuah rumah sakit yang sudah
sangat lama digunakan,namun tidak dirawat.
Tuna S masuk ruangannya, diseputar
dinding Nampak terjejer rapih
gambar-gambar
manusia yang tersenyum. Amin dan seorang tua berjejer duduk diruang tunggu. Tuna s Nampak baru bangun tidur. Dia duduk di atas sebuah peti mati, yang dijadikannya meja untuk menerima dan memeriksa pasien.
manusia yang tersenyum. Amin dan seorang tua berjejer duduk diruang tunggu. Tuna s Nampak baru bangun tidur. Dia duduk di atas sebuah peti mati, yang dijadikannya meja untuk menerima dan memeriksa pasien.
Tuna S membuat tanda salib , lalu
membuka peti mati. Dari dalam petinya lalu diambil gayung, odol, sikat, lalu
menggosok gigi. Lalu setelah itu menelan sebutir pil, dan dia bersendawa.
Ditutupnya peti mati lalu membuat tanda salib lagi. Diruang tunggu terdengar
orang tua terbatik-batuk. Amin membantu melegakan nafasnya.
TUNA S
Suster… Suster… ( sepi tak
ada jawaban. melihat pada orang tua. matanya saling tertumbuk ) masuklah. (
Dokter melepaskan kerekan. ke ranjang alat-alatnya tur un tepat dihadapan
dadanya ).
AMIN
nama saya Amin, Dokter.
Tuna S ( duduk
menghadapi dengan tatapan kosong ).
apa cita-citamu?
AMIN ( heran
).
saya mau berobat.
TUNA S
Oh, maaf. Saya selalu teringat
noni, saudaraku. Maksud saya, Ayahmu sakit apa?
AMIN
Maksud Dokter…
TUNA S
Panggil aku Tuna. Tuna Sumantri
( terdengar batuk Orang tua. Tuna mengeluarkan nama dari keranjang
peralatannya. memperlihatkan kaus yang dipakainya. lalu celana panjangnya.
tulisannya : Tuna s)
AMIN
Baik. Nama saya Amin. Saya
sakit
TUNA S ( berdiri
).
O, kukira kau hanya mengantar Ayahmu
kesini.
AMIN
Bukan. Aku tidak kenal Orang
tua itu. dia datang sesudah aku. Saya kira memang sakitnya lebih parah.
TUNA S
Jadi dia bukanAayahmu? ( pergi
ke pintu . memandang Orang tua) Suster… Suster… ( jengkel ). Kemana
mereka?! ( Dokter bertumbu pandang dengan Orang tua. pandangannya aneh. Dokter
mengangguk ).
AMIN ( Amin
mencoba menggerak-gerakan tangan kanannya yang sulit di gerakan ).
TUNA S
Kenapa kamu Amin?
AMIN
Tangan saya tidak bisa
bergerak. Dan akhir-akhir ini mataku rasanya bertambah berat. Penglihatanku
kabur.
TUNA S ( memegang-megang
tangan Amin ).
Apa kerjamu?
AMIN
Menulis, Dokter ( Dokter
mengacungkan papan namanya ). Aku
menulis, Tuna.
TUNA S
Jadi kau seorang pengarang
Amin?
AMIN
Belum jelas.
TUNA S
Maksudmu? ( sambil meneliti
tangan Amin ).
AMIN
Aku menulis karena kesukaan
saja. ( Dokter menyuruh membuka rahang ).
TUNA S
Kesukaan? (Amin mengangguk,
Dokter mengatupkan rahang Amin ).
Hahaha… aku punya saudara, juga
pengarang seperti kau. Kalau kutanyakan : Noni apa saja yang kau tulis itu,
dengan tak acuh dia akan bilang : apa saja yang kusuka! Hahaha. Dan roman
mukanya mengerut persisi seperti kau menjawab pertanyaanku tadi. Kau sepreti
Noni.
AMIN
Aku Cuma menulis apa yang
melintas pada pikiranku.
TUNA S
Itu bagus. Setidaknya kau tahu
betul apa yang kau tulis. Kapan saja kau menulis?
AMIN
Setiap hari. Setiap waktu.
Setiap hatiku menginginkannya. (Orang tua itu bukan lagi).
TUNA S
kau pasti mengenal, siapa itu…,
Agatha Kristiono?
AMIN
Tidak.
TUNA S
Tapi kau seorang pengarang?
AMIN
Memang. Tapi hidupku kurasa tak
membutuhkan teka-teki dan misteri.
TUNA S
Kalau begitu, kau pasti lebih
menyukai karangan-karangan Eddy Durennmatt Iskandar?
AMIN
Tidak, Dokter. Kuras Tuhan
tidak membuat hidup semudah novel-novel itu.
TUNA S
Kau seorang pemikir rupanya.
AMIN
Aku menyukai peperangan. Ya! Aku
selalu menulis tentang itu. Sebab dalam peperangan selalu lahir
pahlawan-pahlawan ( Orang tua batuk-batuk lagi ).
TUNA S
Sebentar! ( bergegas ke
pintu ). Suster… ( mendekati Orang
tua ) masuklah, Pak.
AMIN
Selesaikan dulu. Aku tidak
apa-apa ( batuk-batuk lagi ).
TUNA S
Bapak perlu minum?
ORANG TUA
Tidak, terima kasih, aku tidak
bisa menerima kebaikan orang, sebelum aku berbuat sesuatu kepadanya.
TUNA S
Baik. ( kembali kepada Amin )
rasanya dia mengenalku. Matanya… ah.
AMIN
Apa memang tanganku lumpuh, Dokter
Tuna?
naskah lengkap Bius ~ Benny Yohanes dapat diunduh dibawah ini
Share via FB/Twitter / Google Plus untuk melihat alamat unduhan
Tweet
Tweet


