S A R I M I N
Sebuah Monolog
Karya Agus Noor
Tampak panggung pertunjukan, mengingatkan pada pentas
kampung…
pemusik-opening.
Sesekali pemusik menyampaikan pengumunan soal-soal yang
sepele: Memanggil penonton yang ditunggu saudaranya di luar gedung, karena
anaknya mau melahirkan; menyuruh pemilik kendaraan untuk memindahkan parkir
mobilnya, atau mengumumkan bahwa Presiden tidak bisa datang menyaksikan
pertunjukan malam ini karena memang tidak diundang; pengumuman-pengumuman yang remeh-remeh
dan bergaya jenaka… Atau menyapa penonton yang dikenalnya, bercanda, say hello,
sembari sesekali menyetem peralatannya.
Kemudian mereka menyanyikan lagu tetabuhan, yang
mengingatkan pada musik topeng monyet. Para
pemusik bernyanyi dan berceloteh jenaka. Sementara ruang pertunjukan masih
terang. Tertengar lagu tetabuhan yang riang…
Lalu muncullah aktor pemeran monolog ini atau Tukang Cerita.
Terlihat jenaka menari-nari mengikuti irama. Hingga musik tetabuhan berhenti,
dan Tukang Cerita mulai menyapa penonton dengan penuh semangat bak rocker,
TUKANG CERITA:
Selamat malam semuanya! Yeah!…
Wah, gayanya seperti rocker, tapi nafasnya megap-megap.
Rocker tuek…
Senang sekali saya bisa ketemu Saudara semua. Ini kesempatan
langka, bertemu dalam peristiwa budaya. Anda mau datang nonton pertunjukan ini
saja sudah berarti menghargai peristiwa budaya, ya kan ?! Hanya orang-orang yang berbudaya yang
mau nonton peristiwa budaya. Jadi, bersyukurlah, kalau malam ini Anda merasa
ge-er sebagai orang yang berbudaya. Soalnya, di negeri ini, manusia yang masuk
dalam kategori manusia berbudaya itu lumayan tidak banyak. Jadi manusia
berbudaya itu agak sama dengan badak bercula. Sama-sama langka.
Nah, salah satu ciri penonton berbudaya itu kalau nonton
pertunjukan, selalu mematikan handphone. Ayo sekarang, silakan men-non
atifkan-kan HP Anda, sambil berimajinasi seakan-akan Anda itu Presiden yang
sedang men-non aktif-kan menteri Anda. Atau kalau selama ini Saudara punya
bakat dan naluri membunuh, silakan diekspresikan bakat membunuh Saudara dengan
cara membunuh handphone masing-masing.
Nanti, selama pertunjukan, juga dilarang memotret pakai
lampu kilat. Nanti ndak jantung saya kaget. Di dalam gedung ini juga dilarang
makan, minum atau merokok…. kecuali pemainnya.
Malam ini, saya akan bercerita tentang Sarimin. Perlu Anda
ketahui, nama Sarimin ini bukanlah nama asli. Tapi nama paraban. Nama
panggilan. Nama aslinya sendiri sebenarnya cukup keren: Butet Kartaredjasa..1
Mungkin nama ini kurang membawa berkah. Meski pun ada juga lho orang yang
memakai nama Butet Kartaredjasa, lah kok nasibnya malah mujur: tersesat jadi
Raja Monolog. Atau istilah yang lebih populisnya: pengecer jasa cangkem.
Nah, dia dipanggil Sarimin, karena berprofesi sebagai tukang
topeng monyet keliling. Agak aneh juga sebenarnya, kenapa nama Sarimin itu
identik dengan topeng menyet. Begitu mendengar nama Sarimin, langsung ingatan
kita… tuinggg… melayang ke topeng monyet.
Memang sih ada nama-nama yang identik dengan sesuatu. Yah,
misalnya sepertu nama Pleki. Begitu mendengar nama Pleki, kita pasti langsung
teringat pada… (sambil menunjuk ke arah pemusik).. anjing kampung. Atau nama
Munir, misalnya. Nama munir selalu mengingatkan kita pada aktivis hak asasi
yang mendapat berkah diracuni arsenik. Memang kebangeten kok yang ngracun itu,
kok ya ndak merasa bersalah… Kita juga kenal Baharudin Lopa, yang identik
dengan sosok yang jujur dalam hukum. Nama Gesang… identik dengan Bengawan Solo.
Suharto… yang identik selalu mendadak sakit kalau dipanggil pengadilan. Atau
Sumanto… Begitu mendengar nama Sumanto, kita langsung teringat…
Celetukan pemusik: “Kanibalisme…”
TUKANG CERITA:
Itu terlalu keren… Bukan kanibalisme, tapi ciak kempol! Atau
yang sekarang lagi popular: Bondan Winarno… Begitu mendengar nama Bondan Winarno,
langung ingat wisata kuliner… mak yuss…
Musik memberi tekanan dan membangun suasana…
TUKANG CERITA:
Sebagai tukang topeng monyet keliling, Sarimin lumanyan
konsisten menekuni kariernya. Lebih kurang 47 tahun dia jadi tukang topeng
monyet. Sekarang dia sudah berumur 54 tahun. Jadi kalau dihitung-hitung, dia
sudah menjadi tukang topeng monyet sejak umur 7 tahun. Ini profesi yang
diwarisi Sarimin dari Bapaknya yang sudah almarhum.
Mungkin Saudara pernah bertemu Sarimin. Atau pernah melihat
Sarimin melintas di jalanan yang macet. Kemacetan yang sepertinya sengaja
diselenggarakan oleh Gubernurnya.
Atau mungkin suatu hari Anda pernah secara sengaja
berpapasan dengan Sarimin. Mungkin malah Anda sempat ngobrol sebentar
berbasa-basi denganya… Tapi Anda tak lagi mengingatnya. Tampang dan nasib
Sarimin memang membuat orang malas mengingatnya. Saking leceknya. Bajunya…
Tukang Cerita itu
mengambil baju dari kotak pikulan topeng monyet yang ada di dekatnya.. Dan
mulai di sini, pelan-pelan, Tukang Cerita itu mengubah dirinya menjadi tokoh
Sarimin. Sambil terus bicara ia mengganti baju Tukang Cerita dengan pakaian
Sarimin…
TUKANG CERITA:
Lihat saja bajunya… Setahun sekali kena sabun saja sudah
lumayan… (Kepada para pemusik) Coba cium…, baunya… hmmm, mak brengg… Belum lagi
celananya…Coba lihat… (sambil memakai celana itu). Selalu cingkrang…. Tapi ini
cingkrang yang tidak menakutkan lho ya… Karena meski celananya cingkrang, tidak
jenggotan.. Tidak suka merusak kafe-kafe atau tempat hiburan malam…
Sembari terus berubah menjadi Sarimin, menempelkan bermacam
“asesoris” penyakit kulit di tubuhnya…
TUKANG CERITA:
Tubuh Sarimin juga full asesoris… Penuh tato emping, alias
panu. Dia juga punya bisul yang nggak sembuh-sembuh. Ada kutil di lehernya… Kurap ada. Kadas,
kudis, jerawat, koreng, kutu air…. Pokoknya segala macam jenis penyakit kulit
tersedia lengkap di badannya.
Dengan segala macam anugerah penyakit yang dimilikinya itu,
sudah barang tentu Sarimin bukanlah sosok yang menarik untuk Anda ingat.
Sarimin bukanlah orang yang cocok untuk dijadikan monument ingatan. Makanya,
saya pun akan maklum, apabila setelah menyaksikan pertunjukan ini Anda pun
tetap tak akan mengingat Sarimin… Sekarang ini, yang paling sulit memang
mengingat. Karena kita sudah terlalu l ama dididik keadaan untuk gampang lupa!
Musik menghentak, memberi tekanan perubahan suasana dan
karakter. Kini aktor itu sudah sepenuhnya berperan menjadi Sarimin. Sementara
musik tetabuhan topeng monyet berbunyi,sarimin-jalan2.jpg Sarimin mulai
mengambil peralatan topeng monyetnya, kemudian mulai berjalan memikul peralatan
topeng monyetnya, seolah mulai berjalan keliling menyusuri jalanan… Suasana
makin meriah dengan teriakan suitan para pemusik yang mencelotehi tingkah
Sarimin…
Sampai kemudin Sarimin mendadak berhenti, memandang ke
bawah, ke dekat kakinya. Seperti ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Segera
Sarimin memungut sesuatu yang tergeletak di pinggir jalan itu. Sebuah KTP.
Sarimin dengan ragu-ragu memungut KTP itu. Memeganginya, memandanginya…
Pada saat inilah, lampu di bagian penonton meredup dan
menggelap. Dan cahaya di panggung mulai mengarah pada Sarimin yang memegangi
dan mengamati KTP yang ditemukannya itu: bergaya membaca nama di KTP itu,
padahal ia tak bisa membaca… Baru kemudian ia menunjukkan KTP yang ditemukannya
itu kepada para pemusik…
SARIMIN:
Ini KTP siapa, ya? Ada
yang merasa kehilangan KTP tidak? Coba cek dulu mungkin dompet sampeyan jatuh..
Atau kecopetan… Gimana, ada yang merasa kehilangan KTP?
SARIMIN:
Maaf, Bu… Pak… Ada
yang merasa kehilangan KTP ndak ya? Ini tadi saya nemu…. Nanti kalau sampeyan
ndak ada KTP kena razia Operasi Justisia lho… Bisa-bisa dianggap penduduk
gelap… Ini KTP sampeyan bukan?
Celoteh Pemusik: “Mas, tanyanya yang sopan… yang halus…”
Lalu Sarimin pun bersikap sopan yang dilebih-lebihkan,
bertanya pada para penonton sekali lagi,
SARIMIN:
Maaf, Bapak-bapak… Ibu-ibu… Apakah dari pada Bapak Ibu ada
yang merasa kehilangan dari pada KTP? Tidak? Bener, dari pada Bapak Ibu ndak
ada yang merasa kehilangan KTP?
Seorang Pemusik menyuruh Sarimin untuk membacakan nama di
KTP itu, “Kamu kan bisa baca, di situ ada
namanya…, nanti kan
tahu itu KTP siapa?!”
Sarimin bergaya membaca tulisan di KTP itu, tetapi hanya
bibirnya yang komat-kamit…
SARIMIN:
Eee, anu, mata saya ini rada aneh kok… Kalau buat mbaca
langsung mendadak rabun… Lha ini, tulisannya mendadak ndak jelas… Gini ajah,
gimana kalau sampeyan yang bacain…
Para Pemusik meledek Sarimin: “Allahh.., bilang saja nggak
bisa baca. Nggak bisa baca ajah kok nggaya!”
SARIMIN:
Lho, siapa yang nggaya? Siapa yang ndak bisa baca? Mbok
jangan menghina begitu. Sukanya kok ya menyepelekan. Jangan meledek orang yang
ndak bisa baca… Banyak juga kok orang yang tidak bisa baca tapi ya sukses…
Malah ada orang ndak bisa baca tapi jadi pemimpin…
Celoteh Pemusik: “Lho emangnya ada pemimpin yang nggak bisa
baca?”
SARIMIN:
Ya ada… Gini saja kok ya ndak tahu…
Celoteh Pemusik: “Coba sebutkan, siapa?”
SARIMIN:
Pokoknya ada… Ndak usah saya sebutkan…
Celoteh Pemusik: “Bilang saja takut…. Hayo, coba sebutkan,
siapa?”
Sarimin tampak bingung, terpojok karena terus didesak,
mencoba menutupi ketakutannya. Celoteh Pemusik, terus mendesak: “Ayo, coba
sebutkan kalau berani…”
SARIMIN:
(Melihat-lihat ke arah penonton, masih ketakutan dan
hati-hati) Ada Pasukan Berani Mati yang nonton ndak ya… (Sarimin tampak nggak
berani menyebut)… Ya, pokoknya ada!
Celoteh Pemusik, terus mendesak: “Iya, siapa? Sebutkan!”
SARIMIN:
(Berpikir sejenak, lalu menjawab) Prabu Destarata… Itu,
pemimpin Hastina! Dia kan
tidak bisa baca… Kalian mau memancing saya kan , biar saya menjawab Gus Dur… Ya ndak
mungkinlah saya berani menyebut Gus Dur… Boleh kan pemain teater juga takut. Nanti kalau
ada apa-apa ya kalian paling cuman bisa nyukurin… Bikin slametan begitu saya
dipenjara…
Sarimin kembali menimang-nimang dan memandangi KTP itu.
SARIMIN:
Bener, ini bukan KTP sampeyan?… (Bingung menimbang-nimbang
KTP itu) Ya, sudah, nanti sekalian saya pulang, saya tak mapir ke Kantor
Pulisi… Dari pada repot, kan
mendingan KTP ini dititipkan ke Pak Pulisi… Ya ndak? Nanti biar Pak Pulisi yang
nganter ke pemiliknya…
Dan Sarimin pun kembali memikul kotak topeng monyetnya. Musik
tetabuhan mengiringi perjalanan sarimin. “Sarimin pergi ke Kantor Pulisi…”
teriak para pemusik riang bagai pertunjukan topeng monyet.
Tampak Sarimin berjalan menuju kantor pulisi.
Musik terus mengiringi perjalannan Sarimin. Pada saat
inilah, aktor juga mulai menata setting untuk perpindahan adegan. Menggeser
beberapa dekorasi hingga terjadi pergantian ruang…
2.
Ahhirnya, Sarimin pun sampai di Kantor Pulisi. Ia tampak
kelelahan dan capai setelah berjalan jauh. Sarimin memperhatikan Kantor Pulisi
itu, tanpak sepi. Tak ada Petugas Jaga. Ia sejenak clingukan, agak ragu
memasuki halaman Kantor Pulisi itu. Ia berjalan pelan dan sopan mendekat…
SARIMIN :
Permisi, Pak Pulisi….Asalamualaikum, Pak Pulisi…
naskah lengkap xxxxSarimin ~ Agus Noor dapat diunduh dibawah ini
Share via FB/Twitter / Google Plus untuk melihat alamat unduhan
Tweet
Tweet


