MAYAT TERHORMAT
Monolog
karya: Agus Noor dan Indra Tranggono
PROLOG:
Selamat malam,…bla,bla,bla…..(improvisasi)
Sebelum pertunjukan ini dimulai, marilah ada baiknya kita membangun
kesepakatan, yaitu hendaknya pertunjukan kita malam ini tidak diganggu bunyi
tu-la-lit-tu-la-lit ponsel anda atau pager. Bunyi-bunyi ilegal untuk sementara
diharamkan. Maka saya memberi kesempatan kepada anda untuk mengeksplorasi
naluri-naluri purba anda: segeralah anda menjadi pembunuh. Bunuhlah pager dan
handphone anda ! Ini jauh lebih baik katimbang anda membunuh orang, atau
membacok, hanya karena perbedaan visi atau perbedaan pendapat. Kalau nanti
ternyata masih tu-la-lit-tu-la-lit, nikmatilah risikonya dipisuhi penonton
lain.
sesungguhnya saya ini bukan badut. Karena terus
terang saja, saya tidak ingin memperbanyak jumlah badut di negeri ini yang dari
hari ke hari jumlahnya terus menggelembung. Kita sudah polusi badut, over
kuota. Semua posisi sudah diisi oleh orang-orang yang lucu dan menggemaskan,
sampai-sampai tukang monolog yang sok nglucu terancam kehilangan sandang
pangannya.
Oke, sekarang saya ingin mengajak para penonton yang
terhormat untuk sekejap menengok keberadaan mayat-mayat. Tapi saya harap anda
jangan membayangkan suasana horor seperti yang sering terlihat dalam
sinetron-sinetron misteri di televisi. Kalau horor di televisi itu, tidak
menakutkan. Tapi justru malah menggelikan. Tidak membikin bulu kuduk berdiri,
tapi malah membikin satu-satunya elemen dalam tubuh saya berdiri. Yah…itulah
salah satu kelebihan bangsa kita: terlalu cerdas, sehingga apa pun yang
dilakukan seringnya meleset dari sasaran. Mau bikin horor malah menggelikan.
Mau mengusut perkara dan menuntaskan kecurangan-kecurangan, ee…hasil yang
dicapai malah penundaan-penundaan dan pengampunan.
Nah sekarang, kita mulai saja pertunjukan ini dengan pantun
pendek:
Kapal keruk talile kenceng, nyemplung laut dihadang
gelombang
Nonton monolog obat puyeng, asal rileks dan dada lapang
BAGIAN PERTAMA
Sebuah sel panggung. Remang dan sayup. terdengar jeruji dipukul monoton. Lalu
perlahan sepotong cahaya bagai lembing perak, menghujam tubuh SIWI yang lunglai
kepayahan bersandar di jeruji sambil memukul-mukulkan piring seng. Sesekali
mengerang, bahkan meraung…
SIWI terus memukul-mukul piring seng. Sampai kemudian muncul suara derap
sepatu. Semula pelan, kemudian mengeras dan mengeras. SIWI tergeragap. mendadak
piring seng itu berhenti bersuara. menolak dibunyikan. SIWI sekuat tenaga
berusaha terus membunyikan piring itu ke jeruji sel. tetapi piring seng itu
tertahan diam.
SIWI: (marah kepada piring seng)
Kenapa? Takut? Kamu ini aneh lho, cuma piring seng saja kok langsung gemeter
begitu mendengar derap sepatu. Ayo terus bersuara. Bernyanyilah. Karena hanya
kamulah satu-satunya sahabat saya di sini. (Siwi mencoba sekuat tenaga
menggerakkan piring itu, tetapi piring itu tetap tak bergerak) Dasar piring
pengecut! Ingat, eksistensimu ini sudah kuangkat, sehingga kamu tidak sekadar
menjadi alat makan, tapi subyek yang bersuara. Kamu punya hak bersuara. Ayo
bersuara! (Kembali Siwi berusaha membunyikan piring itu, tetapi tetap tak
bisa). Ayo, toh, sebagai perkakas yang nasibnya sudah saya naikkan derajatnya,
mestinya kamu harus tunduk kepadaku. Ngerti! (Malah mendadak, piring itu
menyerang kepala Siwi) Eit, kok malah menyerang. Oo, tahu saya, pasti kamu
sudah kongkalingkong dengan para aparat itu untuk melawan saya, iya kan ?! Pasti diam-diam,
saat saya tertidur, kamu keluar sel ini kasak-kusuk dengan mereka, dan menyusun
rencana supaya tidak loyal lagi padaku. (Piring itu menggeleng)
Sudah jangan mungkir. Di sini, kamulah satu-satunya
sahabatku. Saya berteman dengan kamu, karena hanya dengan beginilah saya bisa
memelihara akal saya. Menjaga kemampuan saya untuk memelihara harapan, impian.
Alangkah konyolnya jika saya sudah tidak mempunyai harapan. Dan lebih konyol
lagi, jika saya tidak punya kemampuan untuk memelihara harapan. Jadi, tolong,
janganlah sekali-kali kamu membelot, melawanku. Terimalah ketulusan cintaku…..
Atau jangan-jangan kamu ingin agar saya “ad interim” kan ? Dik Piring, kamu harus bersyukur,
karena kamu mempunyai kedudukan yang sejajar denganku. Jangan bertingkah, lu.
Saya mutasi jadi kakus, di-beol-in kamu !
Mendadak seperti terdengar lagi langkah kaki — atau entah
apa — begitu pelan, seperti bisikan, membuat SIWI menajamkan pendengarannya,
mendekatkan telinganya ke piring seng itu. Mendadak piring seng itu meloncat
melacang, seperti kaget dan ketakutan.
SIWI : (Berbicara pada piring seng)
Hai, mau ke mana? Jangan tinggalkan aku. Cepat turun sini. Jangan ngambeg
gitu….Ada apa? (Piring seng itu masih melayang-layang, bergerak-gerak seperti
bicara) Kamu ngomong apa, sih? Ngomong saja terus terang? (Piring seng itu
turun mendekati Siwi, nampak berbisik) Ayo toh jangan bisik-bisik begitu. Ah,
yang bener! Kamu jangan sembarangan bisik-bisik lho. Atau kamu mau jadi tukang
bisik? Semprul! Yang menentukan kamu mau jadi apa itu aku. Nasibmu sepenuhnya
di tanganku. Aku bisa saja menjadikanmu terhormat, tapi juga bisa menjadikan
kamu sekadar barang rombengan. Begitu saja kok repot. Sini, apa kamu ingin saya
jadikan barang rombengan?!(Piring menggeleng).
Makanya, sebagai aparat kamu ini jangan semena-mena, apalagi
dengan orang sipil macam aku. (Piring ngambeg, lalu melayang lagi menjauhi
Siwi). Lho,lho…jangan kabur….Percayalah, meskipun aku ini sipil yang sedang
berkuasa — setidak-tidaknya atas dirimu — aku tidak akan menyakiti kamu,
apalagi menculik atau melenyapkan kamu. Aku justru ingin menjadikanmu piring
yang mandiri, piring yang merdeka….
Di gertak begitu, piring itu langsung mengkerut, takut. Lalu
SIWI berusaha membunyikan piring itu kembali, tetapi mendadak terdengar suara
derap sepatu, membuat SIWI ketakutan.
SIWI: (Setelah suara sepatu itu berlalu, ngomong kepada
piring seng)
Ternyata kita ini sama-sama penakut, ya. Ternyata ada yang lebih berkuasa
daripada saya yang orang sipil ini. Ternyata ada yang lebih aparat daripada
aparat macam kamu. Mereka adalah aparat yang hanya bisa membentak, memerintah
dan memaksa kita untuk patuh melalui teror dan ketakutan. Ternyata kita ini
senasib. Ternyata kita ini sama-sama sipil! Sama-sama rombengan! (Membanting
piring seng).
SIWI terpuruk. Musik tipis mengalun. Sel itu kembali
ditangkup kesunyian yang menekan. Siwi menggelar tikar. Minum. Suasana
kendor….Siwi mengambil kartu, lalu membanting-banting kartu seakan-akan sedang
berjudi….
SIWI: (Setengah mengeluh, setengah meracau)
Penjara… Kuburan…. apakah yang membedakan keduanya? Barangkali tak ada. Setiap
orang tak ada yang ingin memikirkan keduanya. Berusaha sedapat mungkin tak
bersentuhan dengannya. Orang tak ingin berhubungan dengan kuburan, karena
selalu mengingatkan pada kematian. Dan orang tak mau berurusan dengan penjara,
karena juga sering kali berujung kematian…
Dengan payah, ia berusaha bangkit, kembali menerawang keluar
jeruji, memukul-mukul piring seng, kemudian bergerak pelan ke arah bibir
panggung, dan suara musik yang sayup perlahan menghilang, bagai angin yang
bergerak menjauh…
SIWI: (Kepada penonton)
Anda pasti membayangkan, kalau saya ini tokoh besar. Tokoh oposisi yang
ditangkap kemudian dipenjarakan. Ya, setidaknya seorang demonstran militan.
Wouw…betapa gagah dan mulianya prasangkaan saudara itu. Semestinya, saya ini
harus merawat kesalahpahaman itu sebaik mungkin, agar saya bisa sedikit
terhibur. Sehingga diam-diam saya ini bisa merasa bahwa diri saya ini memang
orang penting, orang besar yang selalu ditakuti penguasa.
Tapi, sebentar….(Mencermati sosoknya sendiri) Saya kok ya curiga, jangan-jangan
saya ini memang orang besar,…. Setidak-tidaknya ada yang besar di dalam diri
saya…. Iya lho, jangan-jangan saya ini benar-benar pemberani, militan dan
cerdas. (Siwi meminta konfirmasi pada pring yang tergolek di lantai, lalu
mematut diri seperti orang bercermin) Iya kan ? Coba lihat, setidaknya saya ini punya
potongan sebagai pembangkang.. (Bertanya kepada piring) Pantas kan saya jadi
pembangkang ? Soalnya, jadi pembangkang itu ternyata ada enaknya: kalau nasib
baik, bisa terpelanting naik jadi penguasa atau setidak-tidaknya jadi petinggi
negara. Perkara sesudah jadi penguasa lalu lupa berjuang, itu bukan soal
pengkhianatan. Bukan. Itu justru menunjukkan sikap Konsisten untuk selalu tidak
konsisten….(Pause)
Tapi celakanya, saya ini cuma seorang juru kunci. Kekuasaan
saya cuma sebatas kuburan dan tulang-tulang berserakan. Itupun cuma juru kunci
kuburan umum. Tentu, nasib saya akan jauh lebih baik, misalnya, kalau saya ini
juru kunci Taman Makam Pahlawan. Sebab, menjadi juru kunci Taman Makam Pahlawan
tentu lebih prestisius dan memiliki banyak privilige. Lha ya jelas, lha wong
yang diurusi itu jazad para pahlawan.Ingat…p a h a l a w a n (sambil
menggelembungkan mulut). Meskipun yang disebut pahlawan itu lebih pada
orang-orang yang memegang senapan. Istilah yang digunakan saja beda. Kalau
orang bersenapan yang mati maka ia disebut gugur dalam tugas: Gugur satu tum uh
seribu, tunai sudah janji bhakti…. Lho mati saja ada lagunya. Coba kalau orang
biasa yang mati, paling banter disebut meninggal. Apalagi kalau hanya kere yang
mati, maka dengan semena-mena ia disebut tewas atau koit atau bahkan modar. Kok
nggak ada ya kere mati disebut gugur dalam tugas. Padahal seorang kere pun pada
galibnya juga punya tugas mulia…, karena kemuliaan itu ada ukurannya sendiri-sendiri,
tergantung bagaimana kita memaknai kemuliaan itu,…..meskipun ya kebangetan jika
tiba-tiba ada kere yang merasa benar-benar mulia. Gila masyarakat kita ini,
ternyata masyarakat mayat pun disekat-sekat oleh kelas, tergantung dari status
sosialnya. Dan sejarah yang ditulis para pendekar, cenderung menganggap senapan
sebagai ukuran kepahlawanan. Bukan pada kecemerlangan otak, ketulusan
pengabdian, dan ketegaran integritas dirinya.
Tapi, saya tidak ambil peduli. Meskipun mayat-mayat yang
saya urusi tidak dikategorikan sebagai pahlawan, saya toh bangga. Bangga
sekaligus terharu, karena mayat-mayat yang saya urus tak pernah mengeluh,
meskipun tempat persemayamannya…panas, gerah, sumuk,….Mereka tidak minta AC
untuk ruang kuburnya. Sangat berbeda dengan mayat-mayat di kuburan Senayan,
baru sekali saja jadi mayat, sudah macem-macem menuntut ini-itu, minta kenaikan
gaji…
Akhirnya saya paham. Kalau toh mereka itu tak banyak
menuntut ini-itu, barangkali mayat-mayat itu memang sudah lama terdidik dan
terbiasa hidup menderita ketika hidup di dunia. Sehingga wajar, misalnya, jika
mereka lebih merasa nyaman di kuburan. Karena di dalam kubur mereka tidak
pernah mengalami tekanan-tekanan dalam bentuk apa pun. Mayat-mayat yang urus
itu begitu santun. Mereka adalah klien-klien saya yang terhormat, meskipun bisa
jadi mereka mati tidak dengan cara terhormat. Mungkin saja ada yang terpaksa
diseyogyakan untuk mati karena diberi bonus peluru, atau mendapatkan kehormatan
dengan dijerat lehernya, atau dipaku kepalanya, diperam dalam kulkas…Dan ada
satu mayat perempuan yang membisiki, bahwa ia mati disebabkan kemaluannya
dimasuki benda bulat , panjang dan tumpul: selonjor besi. Ya….selonjor besi
yang bulat, panjang dan tumpul itu dimasukkan pelan-pelan, kemudian ditekan sekuat
tenaga. Sehingga rahimnya hancur, kemudian ia dibuang di sebuah hutan. Saya
benar-benar terkesima dengan nasib mayat sahabat saya itu. Mbak, mbak,
mbak…wahai mayat yang selalu hadir dalam mimpi burukku, di manakah kamu ?
Ceritakan padaku tentang dirimu…
- Apa sih status Anda waktu hidup di dunia?
+ Saya hanyalah seorang buruh…
- Lalu kenapa Anda sampai meninggal?
naskah lengkap Mayat Terhormat ~ Agus Noor dan Indra Tranggono dapat diunduh dibawah ini
Share via FB/Twitter / Google Plus untuk melihat alamat unduhan


